Ratusan Lulusan Oxford Bekerja Sebagai Pelayan

INGGRIS - Untuk pertama kalinya, Oxford University menerbitkan data rinci mengenai kondisi lulusan universitas, enam bulan setelah lulus. Secara umum, studi menunjukkan bahwa tidak semua lulusan universitas elite ini meniti karier cemerlang.

Di satu sisi, ada lulusan Oxford yang bekerja sebagai dokter, bankir, atau konsultan manajemen. Namun di sisi lain, ada juga yang sedang berjuang menapakkan ‘kaki’ mereka di tangga karier.

Dari 3.500 mahasiswa yang memberikan informasi ke kampus, 200 di antaranya bekerja di bidang pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar sarjana seperti juru tulis di kantor, asisten penjual, atau pelayan.

Disebutkan bahwa profesi paling populer setelah lulusan Oxford menyandang gelar sarjana selama enam bulan adalah sebagai dokter, analis keuangan dan investasi, pendaftar dan konsultan, peneliti, guru, konsultan manajemen dan periklanan serta eksekutif pemasaran.

Sementara lulusan yang menganggur setelah lulus enam bulan, rata-rata mencapai enam persen di Oxfrod. Ini lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 25 persen.

Dari jumlah tersebut, seperlima lulusan arkeologi klasik dan sejarah kuno menganggur selama enam bulan setelah lulus. Sementara lulusan bahasa klasik dan modern serta studi oriental memiliki tingkat pengangguran sekitar 15 persen.

Perguruan tinggi (college) dengan tingkat pengangguran tertinggi adalah Mansfield, dengan besaran 10 persen dan Pembroke College sebesar sembilan persen.

Direktur Layanan Karier Universitas Jonathan Black mengaku lulusan kampusnya terkena dampak dari resesi ekonomi. “Kami terisolasi dari dampak terburuk resesi ekonomi karena perusahaan melihat Oxford sebagai filter cepat, tapi hal itu tidak berarti lulusan kampus kami langsung mendapatkan pekerjaan. Tapi pendidikan Oxford adalah untuk hidup dan apa yang seseorang bisa lakukan enam bulan setelah lulus tidak sama dengan apa yang mereka bisa lakukan dalam waktu 10 tahun,” jelas Black.

Studi ini menunjukkan bahwa lulusan dengan gaji tertinggi dalam enam bulan setelah menyelesaikan gelar sarjana berasal dari Keble, salah satu college di Oxford yang alumninya merupakan tokoh politik di Inggris seperti Ed Balls dan Lord Adonis. Lulusan Keble mendapat bayaran sebesar 36 ribu poundsterling atau setara dengan Rp516 juta (Rp14,341 per poundsterling).

Lulusan Wadham College, yang terkenal karena kondisi kampus yang liberal dan progresif, merupakan lululsan dengan gaji paling rendah yakni sebesar 20 ribu poundsterling (Rp286 juta) per tahun.

Sementara jurusan lulusan dengan gaji paling rendah diraih Sastra Inggris, yang ‘hanya’ menerima 19 ribu poundsterling (Rp272 juta) per tahun. Dan lulusan material science merupakan penerima gaji tertinggi yakni rata-rata sebesar 35 ribu poundsterling (Rp501 juta), diikuti oleh lulusan ilmu bisnis dan komputer serta medics.

Studi juga menemukan bahwa kuliah pascasarjana berguna untuk meningkatkan besaran gaji. Lulusan pascasarjana dari Christ Church College, yang telah menghasilkan 13 perdana menteri, menerima gaji rata-rata sebesar 57 ribu poundsterling (Rp817 juta).

Sementara pemilik gelar Master of Business Administration atau Masters of Financial Economics menerima rata-rata penghasilan 72 ribu poundsterling setahun. Demikian seperti dikutip dari Telegraph, Senin (20/2/2012).

Studi ini mencakup 80 persen mahasiswa Inggris lulusan sarjana dan pascasarjana di Oxford, 65 persen dari Uni Eropa, dan 35 persen lulusan mahasiswa internasional. Studi dilakukan terhadap lulusan pada 2009 dan 2010.

Setiap tahunnya, semua universitas di Inggris memberikan data ketenagakerjaan dari lulusannya kepada pemerintah. Data diberikan untuk menggambarkan kondisi nasional. Tapi banyak kampus yang tidak mempublikasikan data mereka. Publikasi ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Oxford.(rhs) 
Tag : fakta unik
Back To Top